Mobil Listrik Pemegang Lap Record Nurburgring

Lagi browsing-browsing tentang kendaraan listrik, eh tiba-tiba muncul nama NIO EP9. Nah, ternyata mobil listrik ini pemegang lap record di Nurburgring. Maksunya apa? Ya seperti yang tertulis, artinya mobil listrik ini adalah mobil yang tercepat di nurburgring, dia lebih cepat dari Lamborgini Huracan Performante, Porche 918 Spyder, Nissan GT-R Nismo, Mercedes AMG GT-R, atau bahkan Lexus LFA Nurburgring Package. How can they do that?

Jadi, si NIO EP9 ini untuk menjadi yang tercepat di Nurburgring dibelaki dengan mesin listrik 250kw… Yup 250 kW… Maksudnya 250 kW di masing-masing roda. Artinya ada 1MW (Mega Watt) atau setara 1000 kW, modyar gak tuh 1000 kW. Dengan motor di empat roda, artinya NIO EP-9 dapat mengendalikan ke roda mana tenaga yang disalurkan lebih besar yang mana yang dikurangi, sehingga mendukung pengendalian yang lebih baik. Bahkan di saat tikungan komputer memperhitungkan roda mana perlu tenaga lebih mana yang kurang, ckckck, berapa perhitungan perdetik, ya?

Sedikit informasi tentang sirkuit Nurburgring, sirkuit ini dibagi dua yaitu lingkar utara dan lingkar selatan. Yang sekarang digunakan adalah lingkar utara, dan Nio EP-9 mencatatkan rekor kecepatan sirkuit 1 kali putaran 6 menit 45,90 detik. Sirkuit ini ada di Jerman dengan panjang lintasan lebih dari 20 km. Tampaknya menaklukan sirkuit ini adalah mimpi dari mobil sport produksi masal, mengingat dulu waktu Lexus belajar bikin mobil sport mereka berusaha untuk menaklukan rekor Nurburgring dan berhasil. Entah sudah berapa lama, ya tapi sekarang Lexus ada di bawah NIO EP-9.

Baterai dari EP-9, walaupun tidak secara jelas disebutkan berapa kWh, tapi katanya bisa menempuh jarak 427 km dan dapat diisi ulang hanya dalam 45 menit serta dapat diganti dengan waktu 8 menit. Wiih, kalo punya baterai cadangan, cukup 8 menit bisa nambah jarak 427 km lagi sementara baterai satunya di charge. Bukan cuma mesin, tapi EP-9 juga diberkati suspensi aktif, termauk pengendalian ketinggian ketika dikendarai yang melakukan perhitungan sebanyak 200 kali setiap detik.

Kesuksesan mobil sport elektrik ini juga terutama karena dibangun oleh NIO yang sudah punya pengalaman sebelumnya di dunia balap. Bagi pecinta balapan yang juga cinta lingkungan kayak saya, pasti sudah tidak asing dengan NextEV. NextEV adalah tim yang ikut di Formula E sejak tahun 2014 dengan pembalapnya Nelson Piquet Jr. Nah, belakangan NextEV ini berubah menjadi Nio Formula E Team, yang hasil pengembanganya di trek balap konon dijadikan kendaraan produksi yang dapat dinikmati orang yang beruntung (diproduksi dengan jumlah terbatas dengan harga 1 jt dolar kalo ga salah).

Menggunakan serat karbon, sasis dan eksteriornya dibangun berdasarkan regulasi purwarupa Le Mans. Bobot karbon fibernya total 364 kg, ditambah bobot baterai yang 635 kg dan bobot lainya, total berat mobil EP-9 ini sekitar 1.735 kg. Perpaduan antara bobot yang segitu dan motor listrik 1 MW, percepatan (akselerasi) dari 0 sampai 100 kpj ada di angka 2,7 detik.

Seperti mobil balap Formula 1, EP-9 dibekali dengan sayap belakang yang dapat disetel dengan 3 setelan. Tertutup, yaitu spoiler atau sayap belakang atau rearwing ini terlipat ke dalam sehingga tidak menghasilkan downforce (gaya tekan ke bawah). Low-drag atau lemah tahanan udara, ini memberikan drag/tahanan udara yang lebih kecil, tentunya gaya tekan kebawah juga lebih kecil, tapi ‘ada.’ Yang terahir adalah high downforce, yang katanya dapat menghasilkan gaya 24 ribu newton pada kecepatan 240 km/jam, (mirip formula 1) yang memungkinkan EP-9 menikung dengan gaya 3G.

Di Indonesia kita punya mobil listrik Selo, generasi dua dari Tucuxi. Tinggal terus diujicobakan dan di adjust perangkat lunaknya biar bisa menyaingi mobil sport 3000 cc lain, saya rasa ‘ada’ aja yang beli kok. Buat terbatas dengan 200 unit, kalo laku semua tinggal di desain-kan yang lebih ‘mass production friendly.’ Ya, seperti Tesla itu, bikin Roadster, kemudian dari pengalaman yang ada bikin model S (mobil mewah yang lebih umum) baru terakhir bikin model 3 yang lebih murah, siap produksi masal, punya pabrik sendiri. Oh iya, jangan lupa kembangkan chargernya juga. Kalo pemerintah dirasa lama bikin charger 50kW DC charging, ya bikinkan kita aja. Socketnya, pilih CHaDeMo atau SAE J1772, atau bikin sendiri yang eksklusif, tapi tetap sediakan port SAEJ1772, karena socket ini banyak dipakai mobil listrik lain. Jadi nanti kalo pake socket Selo sendiri dapet diskon (hanya bayar biaya listrik), kalo pake yang lain dikenakan biaya peminjaman perangkat pengisian yang besaranya tergantung pengisian dayanya. Sambil jualan listrik, kan? 😀

Iklan

Bikin Startup Motor Listrik Yuk! Bagian-1

Judulnya kesanya ngajak, tapi enggak punya modal 😛

Tapi intinya sih buat kalian yang bermodal, buat kalian yang punya duid, silahkan ini ada suatu pasar baru di dunia yang kemungkinan akan segera masuk ke Indonesia. Kenapa enggak jadi tuan rumah di negeri sendiri? Kendaraan listrik buatan Indonesia untuk pasar Indonesia, gimana? Di Norwegia selama 8 tahun mobil listriknya naik 10.000% atau 100 kali lipat. Norway ini konon 98% tenaga listriknya dihasilkan dari tenaga air. Wah, kalo populasi mobil listriknya 90% berarti ini negara tidak menyumbang polusi karbon ke dunia… Canggih! Buat kalian yang pengen tapi bingung teknologi-nya, itu banyak mahasiswa-mahasiswa siap lulus yang skripsi-nya tentang motor listrik. Ada juga yang S2 atau S3 mungkin. Tinggal di rekrut, di beli skripsinya, atau kerjasama dengan universitasnya, asal mau gampang lah.

Pelopor produsen kendaraan listrik yang nyentrik yang banyak di rujuk sama banyak orang ini tidak lain tidak bukan adalah Tesla. Walaupun perusahaanya sampai saat ini belum keluar dari krisis keuangan, tapi saya masih punya pegangan, kalo mau bikin mobil, ya bikinlah ‘kaya Tesla,’ karena mereka keren :D. Gimana enggak keren? Satu-satunya produsen mobil yang diantriin orang di depan ‘toko’-nya buat nyetorin duid, padahal baru bisa dapet paling cepet 2 tahun lagi (misalnya). Tingkat suksesnya melengketkan konsumen udah kaya Apple, kan? Nah, buat yang bikin startup, paling enggak mulailah mencontoh Tesla ini.

Spek

Spesifikasi kendaraan listrik untuk roda 4 sudah punya rujukan, ya Tesla itu. Tapi untuk roda dua, belum ada yang sesukses tesla (Punya beberapa model dan sudah jual ribuan unit). Paling enggak kalo roda dua ya yang bersaing dengan roda dua mesin bakar (internal combustion). Kalo di IC ada mesin paling kecil di Indonesia 9kW, ya minimal motor listrik kira-kira 5-6 kW lah (karena langsung deliver ke roda, enggak banyak tenaga yang di korting), baru bisa dibilang motor yang bersaing dengan motor bensin. Jangan lupa, satu kali isi bisa tempuh jarak diatas 100 km donk, masa tiap sebentar isi lagi? Dan tentunya, jangan nanggung!

Waktu baru lahir Tesla punya Roadster, mobil hobi isi dua orang berbasis Lotus Elise (kalo enggak salah). Dia bikin itu sebagai technology demonstrator, intinya sih ngasih tau dunia kalo mobil listrik bisa lho dibikinin sport dengan jarak tempuh 300 km. Dari situ, enggak masalah kok bikin motor purwarupa sebagai teknologi demonstrator yang nantinya dijual agak mahal dan terbatas. Kalo perlu dikasih nomor urut 1-200 (kalo mau bikin 200 unit), jadi nanti di bagian rangka atau bodinya dikasih nomor 001 (untuk yang nomor 1) dan seterusnya. Jadi ada unsur eksklusifitas yang enggak ada di kendaraan produksi lain.

Dalam imajinasi saya sih, pasar yang eksklusif tapi enggak terlalu tinggi harganya pasti kelas 250 cc kan kalo di motor IC? Di kelas ini powernya antara 21-34 hp dan yang cukup bagus pasarnya yang sport firing. Bikin lah itu sebagai technology demonstrator dengan power 21-34 hp dengan jarak tempuh antara 100-200 km (wah ini lumayan susah :D). Tapi tunggu, Mugen Shinden pemenang TT Zero (salah satu kelas Isle of Man TT) aja bisa kok rata-rata kecepatan 188km/jam dengan jarak 60 km. Kalo di turunin aja kecepatan jadi 90km/jam, jaraknya bisa 120km. Lha kalo di turunin lagi kecepatan rata-ratanya bisa lebih jauh lagi, donk? Bisa kan berarti? Bikin yang 25 kw?

Harga

Nah, ini yang penting, tapi biasanya mulai ngantuk kan kalo ngomongin angka? Ya, lewat aja lah, kalo enggka nanti yang di bold aja yang dilihat, ya. Jadi intinya ini setelah coba-coba hitung-hitung, ternyata yang paling mahal dari motor listrik adalah baterainya. Baterainya itu kalo $2 per 1 cell dengan 1 cell 3,7 Volt 3Ah (3000 mAh), setiap motor butuh 939 baterai untuk mencapai daya tampung 10 kWh. Total harganya 25 juta atau sekitar 2,5 juta setiap 1 kWh, nah ada tuh motor listrik lokal 5kWh, berarti baterainya aja kalo pake skema ini (which is bisa jadi lebih mahal) harga baterainya 12,5 jt-an.

Yang mempengaruhi harga diantaranya Baterai, motor listrik, Frame (termasuk ban dan rim), dan Elektronik. Nah, kebetulan enggak tahu nih harga yang lain berapa, tapi untuk baterai aja udah 25 juta. Setelah di hitung-hitung perkiraan harga sekitar 52,6 jutaan. Margin keuntungan 20% harga jual Rp 63,2 juta. Ditambah biaya pajak (yang harusnya pemerintah bisa korting pajak karena motor ini ramah lingkungan) total harganya 70,7 juta. Lebih mahal? Tentu. Tapi 25kw motor listrik atau setara 33 hp ini disalurkan langsung ke ban lho, selisihnya pasti dikit banget antara dyno dan spek.

Dengan harga segitu, kalo biaya perakitan pertahun 2 milyar dengan produksi 400 unit per bulan, ada selisih untung 1,6 milyar perbulan (kecil ya T_T) yang nanti bisa ditabung buat bikin next mass production. Tapi kalo ini mau dijadiin mass production dengan 500 unti perbulan, rasanya cukup menguntungkan dalam jangka panjang. Jangan lupa sisain buat RND perangkat lunak, software update konon bisa bikin baterai lebih hemat 20% kalau ‘pas.’

Infrastruktur

Nah, ini yang juga sangat penting. Infrastruktur ini perlu dipertimbangkan. Bingung kan kalo mau charge tapi listrik rumah enggak kuat, tempat charging jauh, bahkan enggak sampe sisa jaraknya. Oh iya, jangan-jangan pemerintah mau nyatuin listrik non-subsidi gara-gara ini ya? yang 900VA, 1300VA, 2200VA, 3300VA disatukan jadi 4400VA, artinya bisa charge kendaraan listrik di rumah. Kalo menurut spek yang saya pakai untuk motor listrik saya, artinya bisa di isi daya selama 5 jam (kalo daya pengisian 2000VA). Wah, selesai 1 masalah karena PLN, makasih PLN.

Berikutnya, infrastruktur pengisian listrik umum. Ini sangat penting, soalnya PLN ngasih solusi-nya pake SPLU 5kVA dengan colokan standar, padahal kendaraan listrik akan lebih cepat di isi kalau menggunakan pengisian DC, sementara menggunakan SPLU yang ada sekarang perlu adaptor untuk mengubah arus AC ke DC baru dimasukan ke dalam baterai. Ada juga sih yang namanya AC Fast Charging, cukup lah kalo untuk motor, tapi tetep aja enggak akan bisa kalau pakai infrastruktur PLN yang sekarang.

Tapi… Saya punya proposal lain untuk pengadaan listrik untuk kendaraan ini. Seperti di Eropa, Shell mulai membuka pombensinya untuk pengisian listrik, ada baiknya pertamina yang menjual listrik langsung ke masyarakat. PLN cukup memproduksinya, soalnya kalo enggak gitu boros tempat/lokasi. PLN harus cari tempat lagi untuk bangung SPLU khusus kendaraan bermotor. Dengan kemampuan DC Fast Charging, 0-80% baterai kendaraan dalam 20 menit, artinya SPLU yang digabung dengan SPBU akan cukup. Kita berhenti 20 menit untuk beli roti, istirahat sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan, cukup kan? Kalo sampe rumah kendaraan di charge di rumah. Jadi hanya perjalanan jauh aja yang memerlukan pengisian listrik di tengah-tengah. Kalo kerja atau sekedar main di dalam kota ke rumah teman, cukup charge di rumah, numpang charge di rumah temen, terus pulang lagi.

Shell Recharge, pengisian baterai kendaraan dengan 3 port berbeda yang banyak digunakan di Eropa, Chademo dan CCS DC Fast charging, serta 43kw AC Fast charging.

Ditambah lagi lokasi-lokasi parkir juga mulai ditanami tempat pengisian listrik umum di pinggir jalan atau tempat parkir. Dengan begitu populasi kendaraan listrik, terutama motor, pasti akan bertambah.

Moto-e Energica Ego, Gimana Speknya?

Ada kabar gembira untuk kita semua! Sekarang kulit manggis ada ekstraknya. Halah.

Kabar gembira dari Dorna, katanya mereka mau bikin Moto-e, yaitu kelas elektrik dari balapan motor prototype. Nah, di kelas ini ditunjuk Energica, sebuah perusahaan Italia pembuat motor listrik. Basis desain dari motor yang nanti balapan di sirkuit adalah Energica Ego. Lomba cepet-cepetan roda dua dengan mesin tanpa polusi, believe in humanity restored! Setidaknya kan mesin motornya dulu tanpa molusi, masalah pembangkitan listriknya juga nanti bisa pakai yang renewable juga, kan.

Energica Ego. Gambar diambil dari http://www.energicamotor.com Link gambar di sini

Oke, langsung saja, gimana sih speknya? Selama ini kan kalo kita baca motor listrik buatan lokal atau dirakit di sini atau dibuat untuk market Indonesia powernya seadanya banget, ya… Ada yang cuma 600 watt (ini ga sampe 1kw) ada yang 0,98 yang paling bagus se bagus-bagusnya yang baru mau dipasarin di Indonesia palingan Gesits 5KW rated, eh kenapa ga beli gesits aja ya? Xixixi… Kecuali yang impor dan harganya ratusan juta ya beda lagi itu mah.

Speknya seperti berikut:

Tangsel-Patrol 1 kali charge!

Hanya ilustrasi yang bisa ditempuh dengan 2 kali baterai 80%

Menggunakan motor listrik AC dengan magnet permanen, power puncaknya 100Kw dari 4900 rpm – 10500 rpm dengan torsi 195 Nm dari 0-4700 rpm. Artinya power akan terus datar sejak 4900 rpm dan torsi baru mulai turun dari 4700 rpm. Mak nyus kan putaran bawahnya. Dengan 100Kw power mesin, Energica Ego yang dipasangkan dengan baterai 11,7 kWh dapat menempuh jarak paling jauh 190 km dengan kecepatan rata-rata 60 kpj, 150 km dengan 80kpj dan 100 km dengan 100kpj. 11,7 kWh itu bisa nyuci baju 11 kali sambil nyetrika 11 jam. Tapi 11,7 kWh itu cuma setara 1,3 liter bensin. Harganya kalo dalam rupiah 17.550 setara 3 liter premium kurang. Dari perbandingan harganya, setara 33 kmpl dengan power 100kw! Keren.

Jarak tempuh satu kali charge sudah cukup jauh, masalahnya berapa lama di charge sampe cukup untuk melanjutkan 100km perjalanan lagi? Jawabanya adalah 30 menit dengan mode 4 DC Fast Charge, katanya dengan model pengisian CCS (Combined Charging System) yang diambil dari SAE J1772. Walaupun masih kalah lah sama Tesla’s Super Charger, tapi ini cukup cepet untuk 11,7 kWh. Kalo di charge di rumah (rumah di luar negeri) katanya cukup 3,5 jam, yang artinya sekitar 3000 VA. Nah kalo pertamina jadi naikin daya rumah non subsidi jadi 5000VA pas dah tuh, bisa buat charge Energica Ego.

SAE J1772 CCS Gambar diambil dari sae.org

Dengan kemapuan seperti itu, artinya Tangsel-Patrol cukup 1 kali charge dengan kecepatan 100km/jam, belum termasuk regenerative breaking dan kecepetan lebih lambat karena kena macet. Paling enggak setelah lingkar luar karawang ngecharge sekali lah :D. Toh kalo enggak ngecharge, di sekitar situ juga harus istirahat minimal 30 menit. Setelah 80%, caw lagi, sampe lah di Patrol, Indramayu.

Life cycle baterai yang katanya bisa 1200 pada kapasitas 80% berarti jarak tempuh sebelum ganti baterai (kalo mau tetap sempurna) sekitar 1.200.000 km. Meh, 1 juta kilometer! Toyota Limo 5 tahun aja baru 200ribu-an km.

Spek Balap

Dilengkapi dengan alumunium cast wheel depan dan belakang dengan ukuran 3,5 in x 17 in untuk depan dan 5,5 in x 17 in untuk belakang. Roda ini dibalut ban Pirelli Diablo Rosso II dengan ukuran 120/70 untuk depan dan 180/55 belakangnya. Frame tubular trelisnya yang warna merah makin ‘hot’ kalo di-sawang dari samping. Swing-arm berbahan alumunium dengan suspensi yang menyokong bagian belakang Bitubo yang dapat di-setel rebound-nya. Untuk suspensi depan juga dapat di setela rebound-nya dengan diameter suspensi 43mm upside-down (kalo enggak salah).

Untuk sistem pengereman, Energica Ego menggunakan rem depan Brembo dengan double floating discs 330mm dengan 4 piston radial. Bagian belakangnya juga menggunakan Brembo single disc dengan cakram 240 mm 2 piston. Keduanya dilengkapi dengan ABS dari Bosch.

Pengendalian Sempurna

Energica Ego menggunakan komputer khusus untuk mengendalikan seluruh komponen elektrik-nya, yang mereka sebut sebagai Vehicle Control Unit. Perangkat ini mengimplementasikan ‘multi-map adaptive energy and power management algorithm’ yang bikin pengendalian dapat disesuaikan. Saat dikemudikan, sistem akan memonitor dan menyesukan kekuatan motor 100 kali per detik. Sistemnya juga mengendalikan regenerative engine braking, yaitu mengambil energi perlambatan motor untuk disimpan kembali di baterai dan digunakan kemudian. Regenerative braking ini dapat di setela, apakah sangat agresif atau bahkan di nonaktifkan, yang tentunya agar aman dikombinasikan dengan unit ABS-nya.

Dashboard-nya menggunakan 4,3 inci WQVGA 480×272 TFT Color Display dengan internal memori untuk datalogging, GPS reciever terintegrasi, dan komunikasi bluetooth. Keren yo? Motor juga dilengkapi dengan koneksi jarak jauh menggunakan LTE/UMTS/GPRS module, sms, TCP/IP, FTP, SOCKET, dan HTTP, tapi saya masih belum tahu ini gimana pengoperasianya dan buat apa juga komunikasi ini.

keren tampilan dashboardnya. Gambar diambil dari insideevs.com

 

Nah, dengan spesifikasi seperti itu, berat motornya mencapai 258 kg… Berat banget ternyata, ya? Tapi dengan motor listrik yang disalurkan langsung ke roda, pasti nuansa torsinya di putaran awal sangat terasa. 😀

PCX 150 2018 Sudah Bisa di Inden

Tampaknya setelah GXR150 ini motor fenomenal ke dua yang cukup menggiurkan. Di banderol dengan harga 27jt-an untuk versi CBS dan 32Jt-an untuk versi ABS, pengenalanya termasuk yang booming dan di bahas banyak blogger kondang tanah air. Saya ikut-ikutan? Ya enggak lah. Toh ini bukan Blog otomotif informatif. Kebetulan aja suka sama PCX dari dulu, tapi harganya wah banget. Karena suka, ya saya tulis. Saya mah gitu orang nya. 😀

Jadi apa aja yang bagus dari PCX dibanding sainganya? Menurut saya ada 3 kunci utama sekuter metik gambot yang menjadi daya tarik.

Desain

Yang pertama adalah desain. Bagaimana desain PCX? Di desain dengan apik, atau bahasa Sherlock Holmes-nya Well-Designed. Motor transmisi CVT, bentuknya sekuter ya psati begitu lah kan bentuknya ya… Nah, buat penyuka roda dua seperti saya, tentunya desain dari sekuter gambot punya nilai tinggi. Desain ini yang pertama, karena memang karena itulah motor ini di pilih. Kalo bukan karena desain, saya jamin tidak akan muncul sekuter-sekuter jenis ini, ya desain yang itu-itu saja, ya seperti itu-itu saja desainya.

Tapi kalo kita perjelas, gimana ya kok suatu desain itu bisa bagus? Ternyata ada unsur matematis dari sebuah desain agar suatu desain itu terlihat bagus. Yang pertama adalah aturan sepertiga dari dunia foto grafi yang juga ternyata dalam matematika ada yang namanya golden ratio yang kata wikipedia ‘rasio antara jumlah kedua nilai itu terhadap nilai yang besar sama dengan rasio antara nilai besar terhadap nilai kecil.’ Nah, tampaknya PCX 150 2018 ini di desain menggunakan dasar ini. Berikut saya masukan dalam bidang aturan sepetiga.

Mudah-mudahan cukup jelas gambarnya, karena saya ambil dari situs pcx-nya, jadi resolusinya rendah. Pada foto disamping kelihatan kan, bagian depan motor memenuhi sepertiga bagian horizontal. Sementara sepertiga bagian atas dikosongkan, objek langsung memenuhi sisa frame di bagian bawah. Jangan lupa pertemuan Jok dengan dengan ruang kosong di tengah tepat berada di tengah-tengah atau pusat dari ‘golden ratio’ tersebut.

Belum habis, masih ada lagi sebuah rumus matematika yang katanya menentukan keindahan, yaitu bilangan Fibonacci. Secara umum bilangan Fibonacci itu seperti gambar di samping.

bilangan Fibonacci, sumbernya dari https://en.wikipedia.org/wiki/Fibonacci_number

Nah, kalo kita masukan spiral tersebut ke gambar samping desain PCX, bisa kita peroleh gambar seperti di bawah ini:

Gimana? Maksa kan? Ya iya lah. Wkwkwkwk… Sebetulnya masalah desain sih selera, tapi saya suka desain PCX ini terlihat compact. Tidak banyak dimensi terbuang, terutama di bagian mesin yang tertutup rapih. Dari foto-foto yang sudah beredar di Internet, bagian belakang lampunya juga seperti memiliki signature tersendiri, yang dari jauh kita sudah langsung tahu kalau itu PCX. Dari depan, dengan alisnya juga sama, tapi sayang masalah alis ini saya tidak terlalu suka. 😐

Kenyamanan

Urusan kenyamanan PCX lama bisa dibilang jempolan. Minim getar, posisi duduk nyaman, harusnya tetap hadir di PCX lokal ini. Jika kenyamananya sama, atau bahkan lebih baik, maka ini akan menjadi nilai tambah. Sayangnya karena belum ada yang test ride, dan kemungkinan saya termasuk yang tidak bisa segera test ride T_T, jadi belum bisa disimpulkan. Cuma, ya sayang kalau desain sudah oke, tapi kenyamanan kurang.

Fitur

Yang terakhir dan tidak kalah penting adalah fitur. Fitur yang tidak ada di penantangnya antara lain ACG yang membuat start mesin terasa nyaman. Tentu saja jika dilengkapi dengan ISS maka makin lengkap fiturnya, juga irit menerabas lampu merah. Panel meter menyediakan berbagai informasi dan di desain menarik. Yang tidak kalah penting adalah fitur keyless yang sangat nyaman dan merasa aman waktu meninggalkan motor di parkiran, bisa dibilang yang saya rindukan dari GSXR150 ya keyless-nya itu. Yang unik lagi dari PCX adalah cakram depanya menggunakan 3 piston yang biasanya hanya 2. Satu-satunya roda dua yang pakai 4 piston di mesin 250 cc ke bawah adalah KTM duke dan RC di Indonesia.

Begitulah kira-kira yang bikin saya suka motor ini. 🙂

Sayangnya model hybrid-nya enggak diperkenalkan. Model elektriknya juga. Agak sedih juga.

Oh iya, bagi yang tertarik saya dengar dari blog-blog kondang sudah bisa di inden di dealer Honda BigWing.

Seberapa hemat sih motor listrik?

Blog #25

Barusan sambil jalan pulang mikirin artikel tentang skema motor listrik, tapi barusan ada yang menggelitik di komentar first impression PCX Electric. Kecewa sih, ternyata tenaganya enggak sampe 1kw hix, hix, tapi yaudah lah. Masalahnya ada yang bilang ‘motor listrik bikin tagihan listrik mahal’. Wah, wah, orang ngeyel kaya gini perlu diluruskan.

Anyway, karena masih jarang motor listrik, jadi kita pake studi kasus yang udah ada aja, ya. Ambil contoh kasus biaya bahan bakar Viar Q1 VS Honda Vario 110, walaupun saya enggak punya Viar Q1, ya kita lihat di spek dan kita pake worst case scenario untuk menghitung berapa biaya bahan bakar untuk menggerakan kedua motor ini masing-masing.

Kita anggap pulang pergi ke kantor 40KM, perjalanan akhir pekan 80KM termasuk ke warung dan minimarket atau sekedar ke ATM ambil uang dan belanja di pasar. Di tempat saya kebetulan 5 hari kerja, jadi 40KM x 5 = 200KM. Jadi Total perjalanan 280KM per minggu. Di kali empat jadi 1120 KM per bulan.

Hitungannya:

Konsumsi bahan bakar Vario 110 berkisar antara 38-44 km/liter. Saya ambil konsumsi terbaik ya 44 km/liter. artinya dalam 1 bulan membutuhkan 1120/44 = 25,454… saya bulatkan 25,5 liter. Jika harga BBM 6450 per liter, berarti motor membutuhkan 25,5 x 6450 = 164.474.

Kita pindah ke Viar Q1. Viar Q1 punya penyimpanan daya 2KWH. Dengan 2 KWH ini Viar kaytanya bisa menempuh 70 km dan itu tergantung sama beban mesin. Anggap aja ternyata bebanya cukup berat dan cuma bisa 50km, artinya 2kwh ini bisa menempuh 50 km. Jarak tempuh 1 bulan tadi 1120 KM. Dalam satu bulan motor ini akan mengisi sebanyak 1120/50 = 22,4 kali ngisi. Dalam 1 kali ngisi motor membutuhkan daya 2 KW (Walaupun biasanya enggak sampe kosong banget sih, kecuali di dorong sampe rumah. Artinya energi yang dibutuhkan adalah 22,4 x 2 = 44,8 KWH. Harga KWH dari PLN adalah 1,467 per KWh. Kita buletin 1500 aja ya biar gampang, jadi 44,8 x 1.500 = 67200

Dengan Viar Q1 kita hemat Rp. 97.274 Artinya bisa Artinya bisa beli 195 bakwan 1 bulan, atau dapet tambahan 6 bakwan setiap hari… nyam.. 😀

Tunggu dulu! Gimana kalo 1 tahun?

1 tahun artinya 12 bulan. Dalam 12 bulan kita akan menempuh jarak 1120 x 12 = 13440 km.

Jangan lupa, kalo mesin IC (Internal Combustion) harus di servis setiap 4000 km (kecuali karbu 2500 kan ya?). 1 tahun artinya butuh 13.440/4000 = 3,36 atau paling sedikit 3 kali servis. Servis meliputi biaya service 45 ribu, oli 30 ribu (kali aja ada yang murah). Jangan lupa, oli metik juga harus di ganti, harganya 20 ribuan lah ya. Total biaya service dalam 1 tahun : (164.474 x 12) + 3(45.000+30.000) + 20.000 = 1.644.474 + 225.000 + 20.000 = 1.889.474 Dengan rata-ratat biaya per bulan sudah termasuk service dan oli adalah Rp. 382.039,5

Motor listrik harusnya sih enggak perlu di service. Enggak ada klep yang harus dikencengin, belt transmisi yang harus diperiksa, injector yang harus dibersihin, rantai keteng yang harus di cek, dll. dsb. dst. Cukup kampas rem aja yang perlu di periksa, sama baut-baut yang harus di kencengin kalo kendor, itu aja. Jadi biaya per tahunya ya 97.274 x 12 = 1.167.288 Selisih nya jadi 722.186 atau setara 1.444 bakwan. Woooo, banyak ya.

Nah, kalo diperhitungkan biaya service jadi selisih perbulanya adalah Rp. 284.765,5 Wah, bisa nambah cicilan HP nih xixixixixi… Tentunya akan lebih baik lagi kalo pemerintah ataupun Viar sendiri sudah menyediakan tempat mengisi listrik. Jadi bisa ngisi di tempat kerja misalnya… 😀

So, saya simpulkan pemenang irit-iritan ini adalah…

Diambil dari situs http://www.viarmotor.com

Kendaraan Hybrid: Series vs Parallel

Blog #24

Setelah kehujanan dan sepanjang perjalanan membayangkan motor hybrid, akhirnya muncul artikel ini dalam imaji. Sampai tahun 2016 kemarin, kebanyakan mobil hybrid menggunakan skema paralel. artinya mesin IC (Internal Combustion) juga dihubungkan langsung ke roda, dan mesin IC akan mengambil alih ketika mobil melakukan akselerasi atau ketika mobil dalam kecepatan tinggi. Dalam bayangan saya sih ketika melakukan transisi dari mesin listrik ke mesin IC pasti ada jeda seperti transmisi otomatis dengan beberapa percepatan.

Parallel Hybrid

Skema paralel hybrid dari Wikipedia.

Setiap desain pasti ada keuntungan dan kerugianya. Desain yang populer belakangan karena mungkin teknologinya baru memungkinkan saat ini belum tentu juga punya keuntungan mutlak dengan teknologi sebelumnya. Teknologi sebelumnya juga terus diperbaharui, jadi kadang teknologi yang sudah ada sejak lama malah bisa lebih baik dari yang baru muncul.

Sampai tahun 2016 skema mobil hybrid di dunia kebanyakan menggunakan Parallel hybrid. Kala itu harga baterai masih sangat mahal, baru saat ini baterai kendaraan elektrik menyentuh angka 190 USD untuk 1KWH atau menurut google setara 2,7 Juta. Jadi, dengan baterai yang relatif kecil (walaupun kalau dibandingkan dengan aki mobil umumnya sangat jauh lebih besar), motor listrik yang digunakan juga relatif kecil. Daya dari motor listrik ini hanya digunakan pada saat akselerasi di kemacetan, atau membantu akselerasi ketika beban kendaraan cukup besar.

Saat ini tidak sedikit juga mobil hybrid yang tetap menggunakan parallel hybrid dengan motor listrik yang juga besar. Misalnya BMW i8 dengan mesin 1500cc turbo 3 silinder dipadukan dengan motor listrik yang tidak kalah besar. Ketika berakseleras, mobil akan menyalurkan seluruh power mesin IC dan mesin elektriknya ke semua roda, memberikan akselerasi maksimal. Sementara ketika berkendaraan santai koputer akan memadukan motor listrik dan motor IC. Ketika di dalam kota yang banyak menemukan charger, pengguna bisa mematikan mesin IC-nya dan hanya menggunakan mesin Listriknya saja.

Tentunya dengan kapasitas mesin yang besar membutuhkan ruangan mesin yang juga lebih besar. Transmisi yang menyalurkan tenaga mesin ke roda juga cukup memakan tempat. Walaupun menyandang plugin hybrid, BMW i8 ini masih mengandalkan sebagian besar penjelajahanya menggunakan bahan bakar minyak. Jarak jelajah full elektriknya hanya sekitar 24-37 km, sementara perpaduanya mencapai 500-600km jika baterai dan bahan bakar penuh. Tangki bahan bakarnya sendiri sekitar 20-30 liter, mungkin 24 ya… Dibanding dengan Chevrolet Volt yang bisa sampai 85 km jarak penggunaan baterainya jauh, kan?

Series Hybrid

Diagram Series Hybrid dari Wikipedia

Series hybrid ini sebenarnya sudah lama di industri kendaraan. Biasanya digunakan di kereta api dengan sebutan Diesel-Electric Transmission. Lokomotif Diesel-Electric menggunakan mesin IC-nya sebagai pembangkit listrik yang tenaga listriknya langsung digunakan untuk menggerakan roda menggunakan motor listrik. Keuntunganya, tentunya kendaraan akan memiliki seluruh keuntungan menggunakan motor listrik. Di mobil, belum umum, saya baru kenal 2 produk yang pakai Series Hybrid, Chevrolet Volt

Motor listrik memiliki torsi yang tinggi sejak awal, makanya lebih efisien tidak menggunakan gigi, tinggal komputer yang nanti mengkalkulasikan seperti apa tenaga yang disalurkan ke motor listriknya. Dengan bobot yang setara dan tenaga yang setara, akselerasi motor listrik tentunya lebih baik dari pada motor IC, silakan lihat balap drag antara Tesla dengan Lamborghini dan super car lain, kelihatan digdayanya motor listrik ketika akselerasi.

Kebanyakan sistem Parallel Hybrid yang saya tahu memiliki power mesin IC yang lebih besar, sementara untuk Series Hybrid, memiliki mesin elektrik yang lebih besar. Alasanya mungkin karena ada saatnya Parallel Hybrid menggunakan tenaga dari mesin saja, sementara Series Hybrid mesinya akan selalu menggunakan listrik, baik yang di hasilkan langsung dari putaran mesin ataupun perpaduan dari baterai.

Kelemahan Series Hybrid tentunya kendaraan jenis ini seperti hanya punya 1 mesin. Karena sepenuhnya pergerakanya menggunakan motor listrik. Mobil Parallel Hybrid yang mesin elektriknya rusak tentu masih bisa menggunakan mesin IC-nya. Sementara di Series Hybrid jika mesin listriknya tewas, mesin IC-nya tidak bisa digunakan. Tapi… Selama ini kan mobil cuma pakai satu mesin, ya? Jadi bukan kelemahan juga, tapi tidak memiliki kelebihan seperti pada Parallel.

Lebih baik mana?

Ya, tentunya tergantung masing-masing individu sih. Saya yang suka dengan mobil listrik dan desain simpel, ya lebih suka yang Series Hybrid. Mungkin yang suka mesin bensin performa tinggi tapi tetap ingin irit ya bisa gunakan Parallel Hybrid. Sayangnya PCX 150 hybrid yang akan keluar tidak menggunakan parallel hybrid sepertinya. Dengan penggerak elektrik pastinya sensasi mobil listrik lebih terasa di mobil dengan series hybrid.

 

Kendaraan Hybrid: 2 mesin dalam 1 kendaraan?

Blog #24 eng, tapi kok postinganya cuma 23 ya? Ahahaha…

Ceritanya dari dulu banget pengen banget punya motor listrik, tapi ternyata sampe sekarang pemerintah dan swasta belum ada yang mau dan serius mengembangkan infrastrukturnya, jadi waktu Honda bilang ‘kami buat motor hybrid’ wah, seneng banget. Udah lama baca beritanya, tapi baru sempet ngetik nih. Oh iya, ditambah lagi pemerintah ternyata sudah memotong pajak kendaraan dengan dua mesin atau hybrid dari 75% PPNBM menjadi hanya 10% dan 20% PPNBM untuk kendaraan roda 4 sesuai dengan peraturan menteri tersebut. Kalo motor gimana ya? Wah, ga ngerti, silahkan yang ngerti pajak meninggalkan komentar.

Oke, diluar spekulasi seperti apa pajak motor hybrid nanti, saya sedikit mau bahas tentang teknologi-nya. Kira-kira seperti apa nantinya kalo ada satu kendaraan menggunakan dua mesin, dan apa kelebihanya?

2 Mesin dalam 1 kendaraan?

Nah, gimana coba mbayangin 2 mesin dalam 1 kendaraan? Gampang, satunya gerakin roda depan satunya roda belakang… ya kalo mobil kira-kira bisa begitu lah. Tinggal komputer yang kalkulasiin kapan roda depan di pake kapan roda belakang dipake. Tapi gimana kalo mesin listrik dan mesin motor bakar interneal (Internal Combustion Engine kita sebut IC aja biar gampang) menggerakan roda yang sam? Nah, di sini ada ada pendekatan, yaitu parallel hybrid dan series hybrid atau bahas Indonesianya seri dan paralel.

Hybrid Paralel

Pertama kita omongin paralel dulu ya, ini banyak dipake di kendaraan hybrid dari dulu sampe sekarang. Dengan sistem paralel hybrid, mesin IC akan dapat menyalurkan langsung tenaganya ke roda, sementara mesin listriknya juga bisa langsung ke roda melalui transmisi. Transmisi ini nantinya akan mengganti sumber penggerak ke roda, apakah pake motor listrik atau motor IC.

Sumber: http://www.itee.uq.edu.au/ Tapi entah kenapa ga kebuka-buka situsnya.

Gambarnya ada di samping nih, jadi dari mesin IC ada semacam power split yang nanti mengganti antara mesin akan dialihkan ke generator atau langsung ke roda penggerak. Kalo disalurkan ke generator, maka akan langsung mengisi daya baterai, sementara mesin elektrik yang digunakan. Kalau baterai penuh, mesin IC akan mati, hanya menggunakan energi dari baterai saja untuk bergerak menggunakan mesin elektrik. Keunggulanya, karena torsi motor listrik tinggi dari awal, maka efisien untuk stop and go.

Dengan diagram tersebut juga bisa dilihat power split device juga bisa melakukan regenerative brake dengan menghubungkan roda ke generator jika kendaraan sedang melambat, sehingga ketika mengurangi kecepatan baterai juga dapat terisi. Nantinya hasil pengisian baterai bisa digunakan untuk akselerasi. Gimana dengan performa? Kalo mesin listriknya cukup bertenaga, bisa membantu akselerasi pastinya. Kalo baterainya penuh, tenaga mesin IC dan mesin listrik bisa disatukan menghasilkan tenaga dengan jumlah dari dua mesin tersebut.

Kayaknya dengan konfigurasi seperti ini bisa menambah efisiensi mesin dengan mengambil daya penghambat saat ngerem tadi. Jadi menurunlah angka konsumsi bahan bakarnya. Selain motor listrik dan motor IC, performa juga tergantung transmisi-nya. Transmisi nanti mempengaruhi tingkat keiritan saat menggunakan full motor IC saja. Transmisi ini harusnya ada di samping power split itu sebelum dihubungkan ke motor listrik. Transmmisi bisa macem-macem, ada CVT, DCT, dll lah pokoknya, kaya mesin biasa itu. Oh iya, BMW i8 juga pake seperti ini kalo enggak salah. Tapi karena bisa charge baterai mobil tanpa mesin, jadi namanya plug-in hybrid.

Hybrid paralel ini sampe tahun 2016 kemarin kata wikipedia adalah yang paling umum.

Hybrid Seri

 

Alternatif dari kendaraan hybrid paralel adalah hybrid seri. Pada versi hybrid ini motor IC tidak akan langsung menggerakan roda, tapi hanya sebagai generator saja. Keunggulanya? Tentunya tidak memerlukan transmisi, karena motor listrik yang akan menggerakan roda, dan motor listrik memiliki torsi tinggi sejak awal. Tentunya juga tidak perlu power split itu, cukup motor IC mengisi daya baterai, baterai langsung disalurkan ke motor listrik, nanti motor listrik yang menggerakan roda. Ketika melakukan akselerasi, power yang bekerja hanya power maksimal dari mesin elektriknya saja. Sementara motor IC hanya mensuplai daya saja ke motor listrik ataupun baterai. Kendaraan jenis ini yang sudah mengaspal diantaranya Chevrolet Volt dan Nissan Note yang kemarin baru di tes vlogger kondang di Indonesia :D. Baik Nissan Note di Jepang atau Chevrolet Volt di USA, cukup sukses lho. Dengan efisiensi tinggi dan cukup murah untuk Nissan Note. Konon Harga Nissan Note masih lebih rendah dari kendaraan hybrid lain di Jepang.

Diagram kendaraan hybrid seri dari Wikipedia

Dari Nissan Note dan Chevrolet Volt, keduanya punya power motor listrik yang lebih besar dari pwoer motor IC-nya, kira-kira bingung ga? Bingung ga bingung tak jelasin deh sedikit. Waktu melakukan akselerasi biasanya dibutuhkan power yang besar, kan, nah waktu itu komputer di kendaraan akan memerintahkan baterai untuk mengeluarkan semua daya yg dia punya sekaligus dari motor IC-nya. Misal power motor IC 90kw, sementara power motor listrik 130kw, maka kekurangan power 40kw dari motor IC akan diambil dari tenaga cadangan di baterai selama melakukan akselerasi. ketika sudah di kecepatan tinggi dan tinggal mempertahankan kecepatan misalnya di 80km/jam, tentu motor listrik juga tidak akan menyedot tenaga sama seperti waktu akselerasi. Misal sekarang motor listrik hanya menggunakan 70kw, maka komputer akan memerintahkan mesin IC untuk mengurangi RPM karena ‘sudah cukup.’ Ketika melakukan pengereman, nanti baterai akan terisi lagi. Jika komputer merasa baterai terallau lemah, dia akan memerintahkan mesin IC untuk meraung mendapatkan tenaga besar agar selisih tenaga yang digunakan mesin listrik dan yang dihasilkan mesin IC disimpan dalam baterai.

Derajat kehibridan

Nah, ternyata di Wikipedia juga ada nih tentang derajat kehibridan (Degree of Hybridization), yaitu seberapa jauh ke hybrid-an sebuah kendaraan. Ternyata saya sudah pake lho kendaraan Hybrid, yaitu penggunakan mesin yang mati sendiri saat mesin idle dan nyala lagi waktu gas di bejek. Yang seperti ini disebut sebagai micro hybrid. Tenaga listrik hanya digunakan sementara ketika mesin sama sekali tidak bekerja. Baterai akan mensuplai daya ketika mesin dimatikan otomatis saat lampu merah atau kendaraan tidak bergerak selama beberapa waktu tertentu.

Setingkat lebih tinggi dari Micro Hybrid adalah Mild Hybrid, yaitu penggunaan regenerative breaking. Ketika melakukan pengereman, energi perlambatan kendaraan disimpan dalam baterai. Motor elektrik tentunya sudah diterapkan di sini, sehingga daya yang disimpan waktu melakukan pengereman itu bisa dipakai waktu melakukan akselerasi. Tentunya dapat mengurangi emisi bahan bakar.

Charge depleting mode adalah tingkat selanjutnya. Yaitu memungkinkan kendaraan untuk hanya menggunakan tenaga listriknya saja tanpa menyalakan motor IC-nya. Karena bisa hanya menggunakan listrik saja, tentunya kendaraan jenis ini perlu baterai yang kapasitasnya jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Efisiensi juga tentunya lebih baik, mengingat bisa lebih banyak menyimpan energi ketika melakukan pengereman.

Tingkat paling tinggi adalah plug-in hybrid. Kendaraan hybrid yang bisa di isi menggunakan listrik dari rumah atau tempat pengisian listrik umum. Tentunya dengan begitu penggunanya bisa pakai listriknya saja tanpa bensin. Bensin dipakai hanya untuk keadaan darurat misalnya perjalanan yang sangat jauh. Tentunya yang hybrid ini tetap punya teknologi-teknologi yang sebelum-sebelumnya. Mesin IC mati waktu tidak bergerak, menyimpan energi dari pengereman, dan dapat menggunakan mode elekrik saja.

 

Nah, itu kira-kira sebagian yang saya mau tulis. Sebagian lainya, nanti ya, udah malem 😀
Pertanyaan berikutnya, seperti apa PCX Hybrid nanti?

Ekskul dalam pikiran saya

Blog #23

Entah kenapa tiba-tiba kepikiran tentang sekolahan pada umumnya, khususnya SMP tempat istri saya ngajar. Kebetulan juga Istri pelatih Ekstrakurikuler (Ekskul) Tari. Waktu tanya, di SMP tempatnya ngajar ada ekskul apa aja, ternyata enggak banyak. Ya, itu-itu aja. Ekskul yang di hobiin banyak orang dan bisa dikompetisiin, kebanyakan olah raga. Bukan saya enggak setuju dengan ekskul itu, tapi kok enggak bikin banyak ekskul aja, biar kalo bisa seluruh siswa-nya tuh punya ekskul, dari pada nongkrong-nongkrong, ngerokok, tawuran, kan?

Menurut saya Ekskul ya memang harus hobi, buat yang suka gambar, ya adakan ekskul lukis, sketch, manga, atau yang lainya. Buat yang suka bahasa, bikin ekskul bahasa, baik Jepang, China, Arab, Inggris… khusus buat inggris, kan guru bahasa inggris bisa jadi pelatih sekaligus pembinanya. Banyak lagi kan yang bisa dijadiin ekskul?

Pasti yang selanjutnya bingung adalah ‘pelatihnya siapa?’ -kan? Bisa pake pelatih, bisa pake pembimbing aja kok. Misalnya ada ekskul penelitian komputer, ya pembimbingnya cukup yang ngerti internet aja, nanti anak-anak saling diskusi sendiri satu sama lain untuk bikin program apa. Seru kan, sharing kegelisahan pemrograman antar sesama penghobi… malah jangan-jangan nanti bisa ngalahin yang udah kuliah jurusan komputer. Saling sharing, saling coba, saling tanya dan cari sumber informasi baik di perpustakaan, internet, atau guru komputer. Ekskul tuh bukan yang penting menang kompetisi, tapi yang penting bisa mengembangkan bakat ataupun hobi dari siswa ke arah yang positif.

Taman sekolah terlalu luas untuk tukang kebun yang ada? Gampang, jadiin tukang kebunya pelatih ekskul ‘berkebun’. Seluruh sekolah bisa jadi tempat eksperimen dan siswa, kan? ‘Berkebun’ terlalu ga ilmiah? Ganti namanya jadi ekskul ‘botani’ atau ‘agrikultur’. Jadi mereka yang hobi atau tertarik dengan botani bisa ikut di situ. Guru biologi bisa jadi pembimbingnya, bantu bapak/ibu tukang kebun memberikan penjelasan ilmiah. Siswa diberi kebebasan untuk nyoba nyangkok, nanem, nakar pupuk, bikin pot gantung dll dst dsb. banyak yang bisa di olah lho.

Jangan orientasi lomba, orientasi hobi atau pekerjaan, pasti banyak yang bisa di jadiin ekskul. Orientasi pekerjaan juga bisa dijadiin ekskul lho.

Tenaga humas kurang? Adain ekskul ‘Public Relations (PR)’ buat bantu humas. Misal tenaga humas sekolah cuma ada seorang, seorang ini jadi pembina sekaligus pelatih, dan ngajarin anaknya cara nulis artikel, framing, negosiasi dll dst dsb. Kombinasiin sama ekskul komputer yang sudah saya singgung di atas tadi, sekarang web site sekolah bisa aktif diisi sama siswa yang ekskul PR itu. Seneng ga orang tua buka web sekolah, terus ada artikel ada fotonya, dibawahnya ada nama anaknya sebagai penulis artikel. ‘Anak gue masih sekolah udah jago bikin artikel.’ Ekskul komputer yang menyediakan web-nya, sekolah yang menyediakan hostingan dan domainya, anak PR yang ngisi artikel, kurang apa?

Fotografi! Ekskul fotografi bisa diadain juga, buat ngisi foto-foto sekolah. Mereka diikutkan di banyak kegiatna sekolah untuk mengabadikan momen-momen penting. Foto dramatis, enggak blur, komposisi keren, dan gambarnya tajam, masuk ke website sekolah.

3 ekskul bisa bikin website sekolah jalan! Gimana? Semua anak seneng bisa ngerjain hobinya, hasil karyanya dipajang, orang tua bisa langsung lihat.

Kata yang melihat sekolah:

Wah, tamanya bagus, ini hasilnya ekskul agrikultur ya?

Wah, webnya keren. Ini yang maintenance anak saya yang ikut ekskul komputer.

Wah, beritanya bagus, ternyata anak saya yang bikin artikelnya.

Wah, foto-fotonya bagus. ekskul fotografinya berkembang ya.

Nah, tapi ini cuma sekedar pikiran saya sih. Toh saya bukan guru/pengajar, jadi mohon maaf kalo ada pemikiran yang sama atau sudah ada penelitianya tentang ini.

Taman di sudut kota

Blog #22

Jadi setelah 2 minggu lalu main di pinggir sawah, kali ini jadwalnya nginep di rumah Akung-Uti. Rencananya memang mau jalan-jalan dulu sedikit, tapi kok mendung, jadi kita jalan aja lewat jalan yang agak gak biasa, sampai tiba-tiba nemuin tempat banyak pedagang. Tempatnya ini ada di Jalan Mandor Tadjir (Tajir bo), tempat pembangunan Gardens GRHA Sawangan (gardensgrhasawangan.co.id). Jalan perumahan yang sedang dibangun itu cukup besar, halus, enak buat lari-lari, motor-motoran, atau sekedar jalan-jalan. Konon katanya ada syuting juga di tempat ini hari sebelumnya, tapi hari ini sudah pindah tempat.

Ada banyak jajanan, dan yang lumayan enak itu baksonya, sayang enggak sempet di foto :D. Selain jajanan, ada wahana juga di sini. Wahana kuda tunggang dan wahana kereta kuda. Kuda tunggangnya 5 ribu 1 kali muter sekitar 150-200 meter perjalanan, tentu aja yang naik Reina, bukan saya.

Salah satu wahana lain yang ada di tempat ini
Es durian

Cukup enak tempatnya untuk jalan-jalan sore. Mungkin kalo dibuatkan direktori tempat-tempat seperti ini, dalam satu sore bisa dapat beberapa lokasi di sekitar sini. Tempat seperti ini yang lain yang saya tau ada di Telaga Kahuripan, Sawangan (sawangan apa ya namanya lupa) dan Vila Dago. Biasanya ada masa yang berkumpula di sekitar situ, tadinya untuk lari pagi atau lari sore, tapi lama-lama banyak pedagang yang bermunculan, dan akhirnya ramai, jadi semacam tempat refreshing kecil yang biasa kita sebut pasar pagi mungkin ya? Atau pasar kaget, karena kadang-kadang kaget juga di tempat begitu ada pasar (tempat transaksi jual beli). Biasanya pedagangnya awalnya ya hanya makanan dan wahana sewaan seperti kuda, lama-lama biasanya mulai bermunculan pedagang lain. Untuk tempat yang kami kunjungi ini, belum tahu nantinya akan seperti apa, mungkin berkembang, tapi mungkin juga dilarang developer seperti di beberapa tempat lain, karena dianggap mengganggu.

Speed of light (Fotografi)

Blog #21

Lagi buka galeri google photo tiba-tiba lihat ada beberapa hasil karya speed of light, satu yang belum banyak konsul sama rekan, satu yang sudah konsul. Konsepnya memang seperti itu, tapi ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ‘noise’ atau ‘gram’ hasil gambar tidak terlalu banyak. Nah, saya akan coba tuliskan tentang bagaimana cara membuat foto seperti ini.

Uji coba pertama saya waktu itu di Bekasi, sekitar bulan Juni, lupa tepatnya. Waktu itu masih bolak-balik Jakarta-Indramayu naik Suzuki GSXR-150. Berhenti, langsung cobain kamera.

Uji Coba 1. f/4.5  1/15 55mm ISO3200

Pengambilan gambar pertama ini bukan uji coba juga sih, realize aja, wah ternyata kalo kecepatan rananya lambat, yang bergerak jadi burem, ya… kalo gitu kalo makin lambat gimana? Nah, dari hasil ini lah, baru ngeh cara buat speed of light itu begitu tho. Dari hasil foto ini, akhirnya kecepatan rana terus dikurangin, dari 1/15 jadi 1/3 sampe akhirnya di dapat angka 1/2. Hasilnya seperti di bawah ini.

f/16 1/2 63mm ISO3200

Nilai f/16, kecepatan rana 1/2 focal lenght 63mm dan ISO 3200. Waktu gambar ini diambil, belum tahu kenapa ISO 3200 itu tidak dianjurkan kecuali terpaksa. Waktu itu juga belum tahu tentang white balance dll, masih sambil belajar. Tapi waktu itu udah cukup senang dengan hasil gambar ini, lumayan ya…

Agak lama setelah ambil gambar ini, setelah belajar sedikit, akhirnya coba lagi ambil gambar seperti itu, kali ini dengan tripod dan menggunakan timer agar kamera tidak goyang waktu proses pemotretan. Oh iya, gambar diatas ini diambil tanpa tripod, jadi ya begitulah jadinya.

f/6.3 8s 189mm ISO800

Yup, kali ini nilai f dipilih yang paling kecil (bukaan besar) dan kecepatan rana 8 detik dengan iso 800. Sayang, ini di kampung, jam 8 malam sudah jarang kendaraan jadi cuma ada 1 atau 2 motor yang lewat, dan jadinya seperti itu. Kali ini tidak ada objek bergeraknya (foto sebelumnya ada manusianya) jadi lebih tajam objek tidak bergeraknya. Uji coba terakhir,

f/6.3 8s 178mm ISO800

Setinganya masih sama, tapi sekarang fokus di tiang jembatan, jadilah seperti ini. Di tunggu sampe ada mobil lewat baru jepret, dapetlah seperti ini. Lumayan lah, untuk belajar. Gambar tidak bergeraknya lebih tajam, warnanya juga lebih pas dibanding yang sebelum-sebelumnya.

Gambar-gambar diatas diambil menggunakan Canon EOS M10 dengan lensa canon EF-M 55-200mm f/4.5-6.3 IS STM.